Rabu, 10 Desember 2008

Suzuki Pertamina OMR, Pontianak


Pembalap Pertamina Berjaya
Pembalap Pertamina Berjaya  Tim Suzuki Pertamina Denso Junior berhasil menempatkan dua orang pembalapnya di podium teratas. Mereka adalah Rey Ratukore (Kupang-NTT) dan M Nurgianto (DKI Jakarta).

Bila selama ini M Nurgianto sering unggul dibandingkan rekan setimnya, Ratukore, di ajang Kejuaraan Suzuki Pertamina OMR di Pontianak, Kalimantan Barat, keadaan berbalik. Ratukore menjuarai dua kemenangan di kelas Shogun 125 cc TU-seeded. Sedangkan Nurgianto harus puas di posisi ke-2.

Pengenalan karakter lintasan dan setingan motor terbaik serta pemakaian Pelumas Enduro 4T Racing menjadi kunci sukses Ratukore. Hebatnya lagi meski lebih senior dua orang pembalap Pertamina ini bersedia berbagi ilmu dan pengalaman kepada para pembalap muda di Pontianak.

Terlebih antusias pembalap lokal untuk mengikuti kejuaraan ini sangat besar. Tercatat 142 pembalap muda mengikuti balapan tersebut.

Pertamina MotorPrix Championship 2008


Belasan Pembalap Jateng-DIY ke Bekasi
Belasan Pembalap Jateng-DIY ke Bekasi Belasan pembalap seeded dan pemula pilihan dari berbagai kota Jateng dan DIY, Jumat (7/11) ini akan ke Bekasi, Jawa Barat.

Mereka siap ikut Pertamina MotorPrix Championship 2008 atau Kejurnas Region II Jawa Seri VI (final) di sirkuit Kota Deltamas Cikarang Bekasi Sabtu-Minggu (8-9/11). Dari belasan pembalap itu, dari DIY atau Yogya, ada pembalap seeded Sigit PD yang kini memimpin kelas bebek 4T 110 cc TU seeded (MP1), Diaz Kumorojati, Arya Dwi Marhaendra, Gilang Pranata Sukma dll.

Di kelas pemula, ada Anang Prabowo, yang memimpin kelas bebek 4T 125 cc TU pemula (MP3), M Raka Sebastian, R Aludona, Yoga Adi Pratama, Ananto Rizka, Gupito Kresno dan Seto.

Sedang dari Jateng, pembalap seedednya ada Ardhi Satya Sadarma dari Purworejo, M Hanief Bahtiar (Pati), Bima Octavianus (Semarang), Adi Ari Wibowo (AW) Sragen, Agus Bleduk Surakarta dll.

Di kelas pemula, ada Teguh Nugroho, Frestian, Ages Furqon, Riska Oon dll. Dari beberapa pembalap Yogya itu, dua di antaranya dari tim Yamaha Rextor Gandhoel Racing Modifikation (GRM) milik mekanik ternama Yogya Gandhoel. Keduanya Gilang Pranata Sukma di kelas seeded (juara FIM Asia 2006) dan R Aludona di kelas pemula.

Pemilik tim sekaligus juga kepala mekanik, Gandhoel ketika ditemui belum lama ini mengatakan, timnya yang ba-ru terbentuk tahun 2008 tak menargetkan hasil yang muluk-muluk di final Bekasi nanti. Tapi apa yang pernah diperoleh Gilang Pranata seperti masuk lima besar beberapa seri kelas MP2 bisa terulang lagi.

Dari hasil final kejurnas gelaran promnas Helmy Sungkar dari Trendypromo Mandira bersama Pertamina dan sponsor lain itu, beberapa pembalap teratas kelas-kelas seeded MP1 dan MP2, bakal masuk IndoPrix 2009. Sedang beberapa pembalap teratas kelas pemula MP3 dan MP4 bakal naik seeded 2009.

(kr)

Selasa, 09 Desember 2008

Tim Suzuki IRC U Mild AHRS Siap Go Internasional


Tim Suzuki IRC U Mild AHRS Siap Go Internasional
Senin, 19 Mei 2008

Podium kemenangan di ajang balap motor bukanlah sekadar sepeda motor yang mumpuni atau pembalap yang punya nyali dan skill yang oke, namun juga berkat kerjasama sebuah tim yang kompak dan profesional, mulai dari mekanik, pembalap, tim riset, manager tim-nya, bahkan juga komitmen para sponsornya.

Begitulah prinsip dari tim Asep Hendro Racing Sport (AHRS), yang kerap kali berhasil merebut podium juara di berbagai ajang balap motor. Tim yang dimiliki oleh H.Asep Hendro dan bermarkas di Depok ini tak hanya sering naik podium di kejuaraan nasional, namun juga telah beberapa kali mencetak prestasi spektakuler dalam mengharumkan nama Indonesia di kancah balap Asia. "Kami ingin menjadi tim balap yang profesional, supaya dunia balap motor Indonesia lebih bergairah dan bisa mencetak pembalap berprestasi yang bukan hanya jago kandang, tapi juga meraih podium di event balap luar negeri," kata Asep.

Misi dan visi AHRS untuk menggairahkan balap tanah air dengan menjadi sebuah tim profesional inilah yang menarik banyak sponsor untuk menggandengnya. Untuk setahun ke depan, Suzuki, IRC dan U Mild telah sepakat mendukung performa AHRS melalui kerjasama yang profesional agar tim balap ini bisa berprestasi di Asia. Kerjasama ini dikuatkan dalam peluncuran resmi tim racing Suzuki IRC U Mild AHRS yang digelar di Sirkuit Gokart, Pancoran Jakarta, 9 Mei 2008.

Sementara Brand Manager U Mild, Yasin Tofani Sadikin mengatakan, “Kami menjadi bagian dari kemitraan tim Suzuki IRC U Mild AHRS untuk memfasilitasi tim balap berprestasi melalui kerjasama yang profesional agar mereka bisa mengharumkan nama bangsa di tingkat Asia”.

Tofani menambahkan, dalam pembentukan tim balap ini U Mild berpartner dengan sponsor lain seperti Suzuki dan IRC. Suzuki berperan sebagai sponsor dari Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) yang mensupport dari sisi teknis, dan akses ke jaringan racing otomotif roda dua. IRC sebagai pabrikan ban terkemuka berperan mensupport teknologi ban racing terkini.

Sedangkan U Mild sebagai perusahaan yang memiliki komitmen tinggi dalam dunia balap tanah air mendukung dari sisi promosi dan publikasi. “Kerjasama yang profesional dan punya visi ke depan ini kita harapkan bisa diikuti oleh tim-tim lain sehingga balap motor menjadi sebuah industri besar di tanah air,” tandas Tofani.

Sebagai ATPM yang telah mendukung tim AHRS sejak awal, Suzuki merasa bangga kini banyak sponsor lain yang ikut mendukung performa tim racing ini sekaligus memajukan balap motor nasional. ”U Mild misalnya yang telah berkomitmen memberikan penjenjangan kepada pembalap-pembalap Indonesia, salah satunya M.Fadly yang diberikan kesempatan bertanding di kelas Supersport FIM Asian GP. Hal ini patut ditiru oleh sponsor lainnya,” ujar Tommy Ernawan, Racing Manager Suzuki.

Senada dengan Tommy, Dody Gozali, Technical and Racing Support PT Gajah Tunggal yang merupakan produsen ban IRC berharap Suzuki IRC U Mild AHRS dapat memberikan performa terbaik sebagai tim balap profesional. "Kami telah melakukan kerjasama dengan pihak AHRS sejak lama, karena itu dengan dukungan sponsor lainnya termasuk di antaranya U Mild akan membuat tim balap ini lebih solid dan profesional untuk menghasilkan sebuah prestasi bagi dunia balap motor Indonesia," tandasnya.

Sebagai sebuah racing tim yang dikelola secara profesional, tim balap ini dikomandani oleh Tommy Effendy alias Sinyo sebagai Racing Manager yang bertugas mempersiapkan tim dari pra hingga pasca balapan baik sisi teknis dan non teknis. Tak hanya itu, Suzuki IRC U Mild AHRS Racing tim juga memiliki tim Riset and Development yang dikepalai Romy Sofyan, untuk menciptakan racing kit dan apparel balap yang berkualitas namun terjangkau.

Pembalap Tim
Saat ini Suzuki IRC U Mild AHRS memiliki empat pembalap utama yakni Muhammad Fadly, Dedy Fermadi, Wahyu Widodo, dan Rijaludin Sidqi. Mereka masing-masing akan mengikuti putaran Indoprix dan FIM Asian GP, Motoprix dan One Make Race Suzuki.

M. Fadly yang merupakan juara underbone 110 cc FIM Asian GP 2004 dan Indoprix 2007, akan diberikan kesempatan untuk turun di Indoprix kelas IP1 dan IP2 serta naik ke kelas Supersport 600cc di FIM Asian GP. Dedy Fermadi, juara Motoprix 2007 kelas MP1 dan MP2, akan bertanding di IP1 dan IP2 Indoprix serta FIM Asian GP. Wahyu Widodo, juara underbone 4-tak 115cc FIM Asian GP 2007, akan diberikan kesempatan bertanding di kelas MP1 dan MP2 Motoprix serta FIM Asian GP. Sedangkan pendatang baru Rizaludin Sidqi akan bertanding di kelas MP3 dan MP4 Motoprix dan event-event nasional.

Di awal tahun ini, dengan kerjasama tim yang sangat baik dari AHRS serta dukungan para sponsor, Suzuki IRC U Mild AHRS kembali mencetak sejarah di dunia balap motor Indonesia dengan kemenangan M.Fadly sebagai juara kelas Supersport 600 cc FIM Asian GP seri I di sirkuit Sentul, 27 April lalu. Di event yang sama Wahyu Widodo juga berhasil berada di urutan ketiga kelas underbone 115cc.

Di ajang kejuaraan nasional Motoprix Seri III Region II Jawa di Yogyakarta, 4 Mei 2008, prestasi juga diukir para pembalap Suzuki IRC U Mild AHRS di kelas Pemula MP3 di mana Rijaluddin Sidqi (Qiqi) berhasil merebut podium utama di kelas ini mengalahkan para kandidat juara. Qiqi juga berada di urutan kedua di kelas MP4, sementara Wahyu Widodo di kelas MP2 berhasil merebut podium kedua

Selasa, 04 November 2008

Djarum Black Motodify 2008 Bojonegoro (9-10/8) : Tampilan Apik 2 Motor Roda Tiga



Kehadiran 2 motor roda tiga dari dua klub berbeda di Djarum Black Motodify (DBM) 2008 Bojonegoro ini memang begitu menarik perhatian para pengunjung yang hadir di Gedung Serba Guna Bojonegoro, Sabtu hingga Minggu (9-10/8). Motor pertama dengan cat berkelir warna merah adalah motor andalan Yoga Pam (28) dari Pam Modified, Pandaan, Pasuruan sedang motor kedua adalah motor milik Bobby Kurniawan (Kebo) dengan cat berkelir krom asal klub KBLH (Kebo Landoh Modified), Pati.

Honda GL 125 (Yoga Pam, Pam Modified)

Ditemui seusai penganugerahan gelar kepada para pemenang di akhir acara DBM 2008 Bojonegoro, pria yang datang bersama istri dan satu orang putrinya ini terlihat begitu bersahaja. Padahal kehadiran motornya di DBM 2008 Bojonegoro tidaklah tanpa hasil. Motor Honda GL 125 yang ia rancang dengan konsep tiga roda orbital inipun berhasil meraih juara dalam tiga kelas bergengsi yang diikutinya yaitu Juara 1 The Most Extreme, Juara 1 The Killer Look, dan Juara 1 Master of Orbital. Mengenai motornya, Yoga yang masih kuliah di Institut Teknologi Aditama Surabaya (ITATS) inipun bercerita.

"Konsep dasar motor ini ialah menggunakan model three wheel atau tiga roda dan lebih saya fokuskan pada sektor kaki-kaki, khususnya untuk sektor kaki depan memakai dua orbital kanan kiri dan ditopang dengan gardan mobil Honda Civic. Selain itu untuk penggerak kita pakai gardan. As depan sebagai penyalur gerak kita ambil dari mobil Mocin. Dinamo wiper kita jadikan sebagai penggerak roda belakang dengan sistem seperti mobil fork lift. Jadi kita manuver kanan kiri pakai roda belakang. Untuk sistem pengereman kita pakai dua disc brake yang ditempatkan di depan. Sedang untuk perubahan body kita ambil contoh dari Japanese Moge, Benelli TNT yang kita sempurnakan lagi," kata Yoga menjelaskan tentang konsep awal dan beberapa ubahan motornya.

Selain itu tambahan lain di motor ini yang jadi kelebihannya adalah penggerak gardan yang memakai Honda Civic ditambah roda gila Colt diesel, transfer gear keluar pakai Lioncin, dual cakram depan memakai merk PSM, dan orbital belakang ditopang roda gila Colt Fuso. Tak heran jika waktu 3 bulan diperlukan untuk menyempurnakan motor yang satu ini selain kesulitan di sektor kaki-kakinya yang memang sangat memperhatikan presisi.

"Harapan saya kedepan, saya ingin motor ini remotenya saya sempurnakan lagi untuk bisa lebih siap ketika datang ke Solo Oktober nanti. Kalau untuk acara Motodify sendiri bagus banget seperti waktu penyelenggaraan di Bali dan Malang, dan untuk pesaing disini juga bagus-bagus dan banyak juga dari luar Jawa Timur yang datang sehingga dapat juga menambah wawasan saya dalam modifikasi motor," lanjutnya merendah seraya mengakhiri percakapan.

Yamaha RX 100 (Bobby Kurniawan/Kebo, KBLH)

Berbeda dengan rancangan motor roda tiga milik Yoga Pam, motor Yamaha RX 100 andalan Bobby Kurniawan atau yang akrab disapa Kebo ini memang terlihat ngejreng dengan tampilan full kromnya. Menyisakan mesin orisinil Yamaha RX 100, motor ini memang terlihat jauh berbeda dari versi aslinya.

Motor yang seluruh bagiannya telah dikrom ini memang terlihat begitu kinclong. Apalagi jika malam, penambahan lampu warna biru membuat motor yang satu ini terlihat begitu "eye catching". Ubahan kaki-kaki pun dibuat pol-polan. Pengadopsian beberapa ide gila pun diterapkan disini. Velg depan menggunakan velg Corry 500:12 terlihat apik dibalut ban traktor, sedang untuk velg belakng menggunakan velg berukuran sama dengan depan namun untuk bannya memakai ban orisinil Corry. Tak mengherankan jika motor andalan anak KBLH ini mampu berbicara banyak di ajang DBM 2008 Bojonegoro. Hasilnya juara 1 The Best Naked Bike berhasil dibawa pulang oleh asal Pati, Kayen, Jawa Timur ini.

1999 Suzuki Satria, Modifikasi "Warisan" Gokart Ala HIMA





Jika sebuah karya modifikasi cenderung membela nama sebuah klub, lain hal dengan kreasi hiper yang satu ini. Mengusung nama HIMA atau lazim diartikan sebagai Himpunan Mahasiswa, sang Gokart warisan berjantung Satria ini hadir pada gelaran Djarum Black Motodify Denpasar Bali 2008 (26-27/7) sebagai salah satu eksistensi karya dan kreasi positif para anak-anak Fakultas Teknik UNUD.

"Awalnya projek ini hasil ide iseng-iseng para alumnus aja mas, tapi setelah direalisasikan dan dissuport penuh oleh pihak kampus, kini malah menjadi warisan berharga di fakultas kami," tutur Andri (22), wakil ketua HIMA Fakultas Teknik UNUD ekstensi periode 2008 pada tim www.autoblackthrough.com mengisahkan.

Yap, alkisah, berawal dari diskusi sesama tongkrongan yang dilakoni oleh Lengis, Kade, Kluyak dan (alm) Kentung. Ide yang awalnya didasari oleh kejenuhan melihat kreasi modifikasi yang masih berbentuk umum di Bali, menjadikan gagasan modifikasi "gokart" pun terlintas dibenak para punggawa HIMA angkatan 2002 tersebut.



Dengan bermodal nekat dan proposal resmi, mereka pun mengajukan ide "tongkrongan" ini pada pihak kampus. Yang secara luar dugaan ternyata disambut cukup baik. "Sebenarnya banyak yang tidak percaya mereka bisa, tapi toh akhirnya berhasil juga dan hanya butuh waktu dua minggu saja," tambah Andri, yang juga merupakan adik kelas dari kelima modifikator.

Meski memiliki latar belakang ilmu yang cukup membantu banyak, namun Andri menceritakan beberapa kesulitan sempat ditemui oleh para pembuat, yang diantara lain pada presisi rangka dan ban gokart yang tidak begitu banyak dijual di Bali. Dengan menghabiskan biaya total 15 Juta, mobil balap mini yang sebagian besar dikerjakan di bengkel bertempat di Jalan Nangka ini akhirnya rampung juga.


HIMA Fakultas Teknik UNUD

"Kalau saat ini kami hanya mengubah beberapa sektor finishing saja, sedangkan untuk sektor lain masih asli seperti dulu," ungkap Andri menambahkan.

Dan dalam keikutsertaan pertama kalinya di kontes modifikasi roda dua paling bergengsi di tanah air, Djarum Black Motodify. Sang "warisan" HIMA ini mampu menyabet gelar kedua sebagai The Best Concept Bike di bawah juara pertama asal Cirebon dengan Vega Willys-nya ( baca : Motodify Bogor 2008 (7-8 Juni 2008) : Yamaha Vega Willys Miniatur 1944, Memang Edan..! )

"Seneng banget bisa menang, meski juara dua. Yang pasti kami dari HIMA Fakultas Teknik UNUD sangat bangga, dan hadiah ini juga kami persembahkan buat para alumnus, pihak kampus dan terutama untuk sang almarhum Kentung yang telah berpulang tak lama setelah mobil ini rampung," tambah Andri yang memiliki target untuk membuat gokart ini mundur sedikit mengenang.

Pembuktian Satria FU Ala R6 Sebagai Jawara Sejati The Best Black Bike Motodify 2008



Jadi kota penutup dari 12 seri rangkaian Djarum Black Motodify (DBM) 2008, final modifikasi motor bertaraf nasional di kota Solo ini memang terasa begitu istimewa. Diikuti sebanyak 272 peserta kontes, pertarungan final DBM Solo juga akan jadi ajang pembuktian siapakah yang berhak menyandang gelar sebagai pemenang The Best Black Bike se-Indonesia. Dan setelah melalui penilaian ketat mulai dari kerapihan, detail, kelayakan jalan dan orisinalitas ide, terpilihlah John Syahrul (36) sang jawara Pekanbaru sebagai pemenang tunggal The Best Black Bike se-Indonesia.



Kemenangan ini layak diberikan kepada John, yang merubah Suzuki Satria FU tunggangannya jadi lebih sangar bergaya super bike ala Yamaha R6. Seluruh bagian dari mulai kaki-kaki depan, kaki-kaki belakang, ban/velg, body, cat, dan variasi lainnya nampak begitu padu hingga dalam baluran warna hitamnya yang elegan. Untuk kaki-kaki depan perubahannya meliputi pengaplikasian garpu ala Aprilia, kaliper Nissin (Aprilia), master rem standard merk Nissin standard FU. Sedang rincian ubahan pada kaki-kaki belakang hanya terlihat pada swing arm-nya yang asli buatan sendiri/handmade. Sisanya rem/cakram, kaliper, master rem masih standard FU.

John Syahrul, The Owner

Menilik ubahan ban serta velg depan motor ini, kita akan melihat sepasang ban berukuran besar seperti yang digunakan pada motor-motor super bike kebanyakan. Velg depan menggunakan power ukuran 3.00 - 17, sedang velg belakang menggunakan ban mobil Escudo ukuran 17 inchi. Sebagai pelapisnya John memilih ban performa tinggi Bridgestone Battlax sebagai pembalutnya. Ubahan besar memang nampak pada bagian body. Hampir keseluruhan rangka depan, fairing, buritan dan cover mesin sudah dirancang handmade bergaya R6. Di luar mesinnya yang masih orisinil Suzuki Satria FU, variasi lain pada motor ini dapat kita lihat seperti pada footstep, stang stabilizer, tensioner rantai, filter udara, maupun pada gas spontannya.

JARS Crew

Mengejar aura hitam yang jadi salah satu syaratnya, cat motor ini menggunakan merk Spies Hecker, Clear Sikken serta sedikit sentuhan airbrush. Tidak heran kalau modifikasi motor oleh pria yang berprofesi sebagai wiraswastawan ini totalnya sudah menghabiskan biaya sekitar Rp. 18 juta dengan lama pengerjaan sekitar satu setengah bulan. Mengenai kemenangannya, kepada tim www.autoblackthrough.com, John mengaku, "Saya sangat bahagia sekali dengan kemenangan ini karena bisa mewakili Indonesia. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk perubahan motor saya sekarang terlihat pada buntut belakang, itu saya buat seperti R6 dan fairing saya rubah frontal abis. Untuk masalah kaki-kaki tetap dengan menggunakan sistem mono arm," katanya menambahkan. "Harapan saya dengan motor, kedepannya akan tetap saya jaga dan tidak akan saya modif jadi standard lagi karena motor ini sudah jadi sejarah buat saya dan tidak akan saya rubah lagi," ujar John ketika ditanya mengenai rencana ke depan dengan motornya. Datang dengan harapan besar bersama dua orang temannya, toh hasil yang dicapai John kali ini sudah sangat membanggakan dirinya dan juga bengkel modif JARS miliknya. Sebagai buah kemenangannya John pun berhak mendapakan satu buah motor bebek yang segera bisa ia bawa pulang ke tanah asalnya di Riau, Pekanbaru. Salut buat John.

Ceper Fungsional Nan Berkilau, Honda Astrea Grand 1992






Nama Honda Astrea Grand di kancah otomotif roda dua memang sudah tidak usah diragukan lagi. Punya mesin bandel dan irit, motor ini memang sempat jadi salah satu incaran para antusias penggila roda dua. Secara umum, desain standard body motor ini memang kurang begitu sporty dan terkesan biasa saja. Namun hal tersebut bukanlah halangan bagi Deby (21) untuk memodif Honda Astrea Grand miliknya agar nampak eye catchy dan bergaya.

Tampil bersahaja di final Djarum Black Motodify (DBM) Solo 2008, ubahan modif yang dilakukan Deby dan PMMC (Prima Modify Motor Cycle) terbukti spesial dan mampu berbicara banyak. Tak heran jika dua penghargaan bergengsi sebagai jawara The Coolest Blink-Blink dan Too Damn Low mampu diraih motor buah kreasi anak-anak asli Sukabumi, Jawa Barat ini. Tema ceper fungsional yang ditunjang dengan tampilan kelir warna biru nan berkilau memang makin menambah nilai plus motor ini.

Adi, Evan dan Deby

Mengenai ubahan modif pada Sang Astrea Grand 1992 ini, Adi selaku modifikator mengungkapkan "Perubahan motor ini hanya sekitar shock breaker depan, belakang, cover lampu depan, dan jok-nya. Sisanya body hanya divacum saja," katanya menjelaskan. Ditanya tentang keunggulan kaki-kaki cepernya sehingga bisa meraih juara 1 kategori Too Damn Low, pria ramah ini mengungkapkan, "Kalau menang di ceper, kita menggunakan model hidraulik. Kesulitannya ialah sewaktu membuat urial semacam per itu agar bisa lebih fungsional". "Untuk bahan-bahannya sendiri dalemannya masih pakai yang orisinil terus per shocknya dipotong kemudian ditambah semacam mur lagi tapi dratnya yang kasar," lanjunya menambahkan.

Adapun total biaya yang dihabiskan Deby untuk memodif motor ini kira-kira memakan waktu sekitar Rp. 12 juta. Kemenangan ini memang jadi ajang pembuktian Deby dan bengkel modifikasi PMMC yang dikomandoi Adi dan Efan ini agar mampu terus berkarya dan bisa menghasilkan motor yang lebih hebat lainnya. Tentang kemenangannya di final DBM Solo ini, Deby sang empunya mengaku senang dan puas karena waktu 3 bulan yang disisihkan untuk pengerjaan motor mendapat hasil yang setimpal. [mot/timABT]